Selasa, 08 Juni 2021

Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana

Tugas Resume Materi "Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana"

Manajemen Bencana


Nama : Wulandari Yusnawati Ramadhani

No. BP : 1911211049

Kelas : A1 


Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Andalas


Dosen Pengampu : Aulia Rahman, S.K.M., M.K.M. 





Minggu, 02 Mei 2021

Indikator Kesehatan dalam Kedaruratan

 Tugas Resume Materi "Indikator Kesehatan dalam Kedaruratan" 

Manajemen Bencana


Nama : Wulandari Yusnawati Ramadhani

No. BP : 1911211049

Kelas : A1 


Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Andalas


Dosen Pengampu : Aulia Rahman, S.K.M., M.K.M. 











Kamis, 22 April 2021

Manajemen Air Bersih dan Sanitasi pada Kondisi Bencana

 Tugas Resume Materi "Manajemen Air Bersih dan Sanitasi pada Kondisi Bencana" 

Manajemen Bencana


Nama : Wulandari Yusnawati Ramadhani

No. BP : 1911211049

Kelas : A1 

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Andalas


Dosen Pengampu : Aulia Rahman, S.K.M., M.K.M. 







Sabtu, 11 April 2020

Standar K3RS

Tugas Resume Materi "Standar K3RS" 
Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Nama : Wulandari Yusnawati Ramadhani
No. BP : 1911211049
Kelas : A1
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas

Dosen Pengampu : Aulia Rahman, S.K.M., M.K.M. 








Sabtu, 04 April 2020

Sistem Manajemen K3

Tugas Resume Materi "Sistem Manajemen K3" 
Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Nama : Wulandari Yusnawati Ramadhani
No. BP : 1911211049
Kelas : A1
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas

Dosen Pengampu : Aulia Rahman, S.K.M., M.K.M. 






Sabtu, 28 Maret 2020

Accident Investigation



Tugas Resume Materi "Accident Investigation" 
Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Nama : Wulandari Yusnawati Ramadhani
No. BP : 1911211049
Kelas : A1
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas

Dosen Pengampu : Aulia Rahman, S.K.M., M.K.M. 
 

 






Rabu, 18 Maret 2020

Jangan Panik! Ini Dia Cara Mencegah Bruntusan





Selain jerawat, masalah kulit sejuta umat lainnya yang tak kalah populer adalah bruntusan. Ya, setiap orang pasti pernah mengalami bruntusan di sekitar wajahnya. Meski bukan kondisi yang berbahaya, wajah bruntusan tentu mengganggu penampilan. Apalagi jika kemunculannya hampir di seluruh wajah. Lantas, bagaimana cara menghilangkan bruntusan di wajah? 

Apa  Itu Bruntusan ???

Bruntusan sebetulnya bukanlah sebuah istilah medis. Sebaliknya, kondisi ini menggambarkan suatu keadaan kulit yang permukaannya terasa kasar dan tidak rata. Jika diraba, bruntusan terasa seperti bintik-bintik kecil yang menonjol di kulit.  
Tak melulu di wajah, bruntusan bisa muncul di bagian tubuh lainnya, selama bagian tubuh tersebut masih tertutupi kulit. Bruntusan bisa muncul hanya di 1 atau 2 titik saja. Namun, tak jarang kondisi ini juga bisa muncul bergerombol atau berkelompok di beberapa area tubuh tertentu.
Beberapa daerah yang rentan mengalami bruntusan di wajah di antaranya bagian T-zone, seperti dahi, hidung, dan dagu. Selain itu, bruntusan juga bisa muncul di bagian punggung, leher, lengan, bahu, dan bahkan dada.

Apa Penyebab Timbulnya Bruntusan di Wajah???

Bruntusan di wajah bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari komedo, iritasi wajah, dermatitis, milia, folikulitis (peradangan pada folikel rambut), keratosis seboroik, dan lain sebagainya. Akan tetapi, komedo merupakan salah satu cikal bakal kemunculan bruntusan yang paling sering terjadi.
Sama seperti jerawat, komedo terbentuk dari penumpukkan sel-sel kulit mati dan minyak yang terperangkap di dalam pori-pori kulit. Pori-pori yang tersumbat ini bisa dipicu oleh beberapa hal, di antaranya.
  • Perubahan hormon
  • Stres
  • Produksi keringat berlebih
  • Penggunaan obat-obatan tertentu
  • Penggunaan kosmetik atau produk perawatan kulit yang tidak cocok
  • Kebersihan kulit yang tidak terjaga dengan baik. Misalnya menyentuh kulit dengan tangan kotor.

 Bagaimana Cara Menghilangkan Bruntusan di Wajah?

1. Rutin Bersihkan Wajah

 

Supaya bruntusan di wajah cepat menghilang, Anda harus rutin membersihkan wajah setidaknya 2 kali sehari, ketika bangun dan sebelum tidur. Pilihlah sabun cuci muka yang sesuai dengan jenis kulit Anda.  
Jika diperlukan Anda juga bisa menerapkan prinsip double cleansing, alias cuci wajah dua kali untuk memastikan kulit wajah Anda benar-benar bersih dari kotoran. Bagi Anda yang setiap hari menggunakan makeup, Anda bisa membersihkan wajah menggunakan makeup remover yang berbasis air (micellar water) atau yang berbasis minyak untuk membersihkan makeup waterproof di wajah.
Pastikan Anda membersihkan wajah sampai benar-benar bersih dan tidak ada sisa makeup lagi yang masih menempel. Pasalnya, sisa makeup yang menempel ini bisa menjadi salah satu pemicu munculnya komedo. 

2. Pakai Pelembab

 

Setelah urusan membersihkan wajah selesai, cara menghilangkan bruntusan di wajah selanjutnya adalah rutin pakai pelembap. Setiap orang, terlepas dari apa pun jenis kulitnya, wajib menggunakan pelembap. Jika diperlukan, Anda juga bisa pakai toner dan serum sebelum menggunakan pelembap.
Apa pun produk perawatan kulit yang Anda pakai, pastikan Anda memilih sesuai dengan jenis kulit wajah serta target masalah yang ingin diatasi.

 3. Jangan Sentuh Wajah Kamu

 

Menyentuh wajah, terutama kalau lagi bermasalah jadi salah satu kebiasaan yang seringnya nggak disadari. Padahal ini bikin bruntusanmu makin menjadi karena bakteri yang ada di tangan menyebar di kulit wajah. Ingat lagi bahwa kamu harus menjaga kulit wajahmu tetap bersih, termasuk juga menghindarkannya dari sentuhan tangan. Satu lagi, sering-seringlah mengganti sarung bantal dan seprai, membersihkan layar HP, dalaman helm, atau benda apa pun yang sering bersentuhan dengan kulit wajahmu.

 4. Eksfoliasi

 

Langkah perawatan untuk membantu menghilangkan bruntusan di wajah  yang tak kalah penting adalah eksfoliasi, yaitu prosedur menghilangkan sel-sel kulit mati. Eksfoliasi kulit dapat dilakukan secara berkala, tiap seminggu sekali, dengan menggunakan produk eksfoliasi yang tepat sesuai jenis kulit Anda. 

Selain ke tujuh langkah di atas, kamu juga perlu memerhatikan pola makan dengan mengurangi makanan yang pedas atau berlemak, jangan begadang, dan menghindarkan diri dari stres. Kalau semuanya itu sudah kamu lakukan, yakin deh, bruntusanmu bakal perlahan menghilang dalam waktu seminggu. Semoga membantu, ya!

Source :
-https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/dermatologi/jerawat/cara-mengatasi-bruntusan-di-wajah/
-https://www.hipwee.com/tips/langkah-pertolongan-pertama-untuk-wajah-bruntusan/



Jangan lupa saksikan videonya yaaa
https://youtu.be/DOSaLWmBHNI

Kamis, 05 Maret 2020

Mental Illness?? Ketahui Penyebab dan Pencegahannya !

Apasih Mental Illness Itu ???

Mental Illness adalah kumpulan penyakit gangguan kejiwaan yang mempengaruhi pikiran, perasaaan dan perilaku seseorang. Gangguan kepribadian ini membuat penderita sulit untuk mengetahui perilaku yang dianggap normal dan tidak.

Mental Illness juga banyak menimpa remaja loh! Sebagian besar gangguan kesehatan mental muncul pada masa remaja atau mungkin di awal usia 20-an.

Para peneliti dari Harvard Medical School menemukan, separuh dari kasus gangguan mental dimulai dari usia sangat muda, 14 tahun dan tigaperempatnya terjadi sejak usia 24 tahun. Karena kemunculannya yang sangat dini itu, maka terapi dan penanganannya harus dilakukan sejak awal pula.

Direktur Eksekutif National Alliance on Mental Illness (NAMI), Mary Giliberti, menyatakan, ada 1 dari 5 remaja mengidap kondisi gangguan mental seperti yang dijelaskan dari name.org, tapi hanya kurang dari setengahnya yang memutuskan mencari bantuan. Padahal Mental Illness adalah gangguan jiwa yang cukup berbahaya dan dapat menyebabkan bunuh diri.

Penyebab terjadinya Mental Illnes ini muncul oleh banyak faktor, bisa karena stres, depresi karena mengalami tekanan yang dalam terhadap mental, atau traumatik akan kehilangan sesuatu dan seseorang. Tekanan batin karena lingkungan sekitar atau orang tua, kurang perhatian atau kasih sayang dan masih banyak lagi.

Ini juga salah satu penyebab para remaja stres atau depresi banyak yang memutuskan untuk mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan sering meminum alkohol atau minuman keras.
Jika kamu, atau teman dan orang orang terdekat yang kamu tahu sering mengalami hal di bawah ini, maka bisa jadi kamu atau orang terdekatmu memiliki Mental Illness,

1. Sering Merasa Sedih dan Tidak Punya Harapan

 Sering merasa sedih dan tidak memiliki harapan, seperti mengucilkan diri selama lebih dari dua minggu, hati hatilah kalau sebenarnya mentalmu sedang terganggu.










2. Munculnya keinginan mengakhiri hidup

 Jika kamu memiliki keinginan atau niatan untuk bunuh diri, bisa jadi kamu mengalami gangguan terhadap mental.












3. Tidak bisa mengendalikan diri sendiri

 Suka marah dan teriak teriak histeris hanya karena hal kecil dan sering melakukan tindakan yang beresiko.












4. Sering takut akan sesuatu tanpa alasan

 Sering muncul rasa takut tidak beralasan bahkan merasakan sesak nafas itu bisa terjadi karena mental mu yang sedang tidak stabil











5. Perubahan pola makan yang drastis

 Berhenti makan dan suka memuntahkan makanan.













6. Mood Swing

 Suasana hati yang bisa berubah kapan saja. Bisa sangat bahagia, sedih, mudah tersinggung dan marah marah gak jelas.












7. Sering memikirkan suatu hal dengan berlebihan

 Hal kecil saja bisa membuat kamu memikirkan nya dengan terus menerus


















8. Suka menyakiti diri sendiri

 Menyakiti diri sendiri seperti menjedutkan kepala kepada tembok, juga salah satu gejala Mental Illness.












Disebutkan ada 10 tanda gangguan mental, namun gejala-gejala ini tergantung dengan gangguan dan jenis yang di alami, gejala dapat bervariasi:
1. Orang dengan gangguan kepribadian cluster A cenderung mengalami kesulitan berhubungan dengan orang lain dan biasanya menunjukkan pola perilaku yang dianggap aneh dan eksentrik.
2. Orang dengan gangguan kepribadian cluster B kesulitan berhubungan dengan orang lain. Akibatnya, mereka menunjukkan pola perilaku yang dianggap dramatis, tak menentu, mengancam atau mengganggu.
3. Orang dengan gangguan kepribadian cluster C takut terhadap hubungan pribadi dan menunjukkan pola kegelisahan dan ketakutan di sekitar orang lain. Beberapa suka menyendiri dan tidak ingin bersosialisasi.

 Bagaimana Pengobatan Mental Illness???

Pengobatan gangguan mental tergantung pada jenis gangguan yang dialami dan tingkat keparahannya. Selain terapi perilaku kognitif dan pemberian obat, dokter juga akan menyarankan pasien menjalani gaya hidup yang sehat.

1. Teori Perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi yang bertujuan mengubah pola pikir dan respons pasien, dari negatif menjadi positif. Terapi ini menjadi pilihan utama untuk mengatasi gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, dan gangguan tidur.
Pada banyak kasus, dokter akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, agar pengobatan menjadi lebih efektif.

2. Obat-Obatan

Untuk meredakan gejala yang dialami penderita dan meningkatkan efektifitas psikoterapi, dokter dapat meresepkan sejumlah obat berikut:

3. Perubahan Gaya Hidup

Menjalani gaya hidup sehat dapat memperbaiki kualitas tidur penderita gangguan mental yang juga mengalami gangguan tidur, terutama bila dikombinasikan dengan metode pengobatan di atas. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:
  • Mengurangi asupan gula dalam makanan.
  • Memperbanyak makan buah dan sayur.
  • Membatasi konsumsi minuman berkafein.
  • Berhenti merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Melakukan olahraga secara rutin.
  • Makan cemilan dengan sedikit karbohidrat sebelum tidur.
  • Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.
Jika mengalami gangguan mental yang cukup parah, penderita perlu menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Demikian juga jika penderita tidak bisa menjalani perawatan mandiri atau sampai melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
 

 Bagaimana Pencegahan Mental Illness ???

Tidak semua gangguan mental dapat dicegah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko serangan gangguan mental, yaitu:
  • Tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan dan aktivitas yang disenangi.
  • Berbagilah dengan teman dan keluarga saat menghadapi masalah.
  • Lakukan olahraga rutin, makan teratur, dan kelola stres dengan baik.
  • Tidur dan bangun tidur teratur pada waktu yang sama setiap harinya.
  • Jangan merokok dan menggunakan NAPZA.
  • Batasi konsumsi minuman beralkohol dan minuman berkafein.
  • Konsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, sesuai dosis dan aturan pakai.
  • Segera ke dokter bila muncul gejala gangguan mental.
 
 
Sources :
  •  https://www.suara.com/yoursay/2019/01/16/140000/mental-illness-better-you-know-and-sharing 
  • https://www.alodokter.com/kesehatan-mental

Rabu, 04 Maret 2020

Jiwaku Sayang Mentalku Malang, Kisah Penyintas Melawan Belenggu Bipolar




Liputan6.com, Jakarta - "Mungkin sudah sedari kecil gejala ini saya rasakan, bahkan saat SMP saya sempat pasrah, karakter saya yang impulsif, membuat saya bisa nangis tiba-tiba, itu tidak wajar, tapi saya anggap itu biasa saja"
Pengakuan tersebut membuka percakapan kami dengan pria berusia 32 tahun bernama Ithong. Ia perantau asal Yogyakarta yang menderita gangguan kesehatan mental sejak terdiagnosa klinis pada 2018.

Ithong mengaku awalnya abai dengan segala hal yang bergejolak di dalam jiwanya. Namun, semua keganjilan tersebut mulai terasa sejak tiga tahun belakangan, setelah ia hijrah ke Bali pada awal 2017.
"Di tahun 2017 saya pindah ke Bali, setahun di Bali saya mulai semuanya. Tapi di 2016 saya sempat di Jakarta dulu dan ikut giat-giat meditasi untuk 'pelarian' karena waktu itu saya belum mendiagnosa diri saya secara kinis, apakah saya benar-benar mengalami gangguan tersebut atau tidak," tutur Ithong saat bertemu Tim Liputan6.com di Jakarta Selatan, 16 Desember 2019.
Bali menjadi titik balik emosi Ithong yang tak terkendali. Secara fisik, Ithong terlihat sehat. Namun di balik itu, dia mengaku sering menangis tanpa sebab, dan meluapkan emosi di lingkungan kerjanya. Ithong pun mengaku sempat berkonflik dengan atasannya, orang Australia, saat bekerja di sebuah e-commerce.
"Hidup saya chaos dan depresif. Lalu saya keluar dari e-commerce itu. Padahal saya merasa memang tak sepenuhnya salah mereka," tutur pria berambut klimis itu.
Tidak memiliki banyak kawan di Bali membuat hidup Ithong luntang-lantung. Di tengah kerasnya beban ekonomi, Ithong mengaku hampir bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di lingkup asuh anak. Setelah melewati seleksi ketat, dia diterima dan dipercaya mengemban jabatan sebagai bapak asrama.

Namun belum sempat dia menjalankan tugasnya, Ithong mengaku menyerah. Sebabnya, dia merasakan ada ketakutan dan kecemasan yang luar biasa yang entah dari mana muncul dalam pikirannya.
"Tiba-tiba saya tidak percaya diri, saya merasa diberi amanat besar, sementara saya merasa belum mampu.  Ada ketakutan, kecemasan dan seperti merasa bakal kehilangan kebebasan atas diri saya sendiri, saya tidak akan merdeka atas diri saya sendiri," cemas Ithong saat itu.
Tekanan hidup dan pekerjaan belum habis mendera Ithong. Depresi terbesar terjadi saat dirinya merasa semakin dijauhi oleh teman-teman dekatnya. Ithong merasa curahan hatinya tidak lagi diterima, dia merasa para sahabatnya sudah lelah dan malah menyalahkan Ithong atas kecemasan berlebih yang menurut mereka hanya berputar di alam bawah sadarnya.
"Oh mungkin ini karena orbit kali ya, oh mungkin karena ini karena fulll moon kali ya, oh mungkin karena ini itu, pokoknya saya selalu mengaitkan ini dengan astrologi dan orang lain," kata dia. "Hal itu yang kiranya kurang dapat diterima teman-teman. Saya sering bertolak pendapat, dan saya disarankan ke ahli seperti psikolog dan psikiater."
Ithong yang merasa belum sanggup menerima saran untuk berobat kejiwaan mengalami gejolak batin. Dia lebih memilih untuk datang kepada praktisi emotional healing yang membuka jasa konsultasi dengan mendengarkan cerita sang pasien. Namun hasilnya dirasa nihil.
Kondisi Ithong makin runyam. Bahkan untuk terpejam beristirahat di kala malam pun sulit. Ia lebih memilih terjaga, tak peduli berapa lama pun, dilakoninya. Banyak hal yang menurutnya menjadi penyebab imajinya berputar di kala malam, berseliweran dan membuatnya tak tenang.

Awal Terdiagnosa Bipolar

Ilustrasi Bipolar Disorder


Ithong yang merana dan merasa sebatang kara di Bali memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta. Kala itu saat momentum Hari Raya. Dia juga memutuskan mau berobat ke ahli jiwa setelah sebelumnya terus menyangkal bahwa dirinya baik-baik saja.
“Saya pulang dan hanya membawa satu tas, saya mulai pengobatan di Yogya, saya tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) agar tahu kena gangguan jiwa bagian mana, itu 2018,” tutur dia.
Hasil tes MMPI akhirnya menguak, secara klinis,ada yang tidak stabil dalam jiwanya. Bipolar menjadi salah satu gangguan jiwa diidapnya selama ini.
'Saya punya kecendrungan yang meledak, kalau tipikal mellow melankolis itu sudah dari dulu banget saat saya runut, sebenarnya polanya sama tapi terlihat wajar biasa saja,” tutur dia.
Setelah itu Ithong pun akhirnya mengonsumsi obat-obatan yang dapat mengontrol emosinya. Rutinitas medis dan konsultasi dengan dokter ahli diakui Ithong semakin membuat hidupnya tenang.
“Rasanya hidup saya lebih stabil ketika minum obat dan itu beda jauh saat minum dan tidak,” jelas dia.

Dirundung Stigma Negatif

Ilustrasi Depresi


Perjuangan Ithong demi menstabilkan kejiwaan diakui tidak mudah. Selain merogoh kocek, pergolakan sosial pun terjadi. Dia mengakui, bahwa stigma negatif bagi para pengidap gangguan kejiwaan masih sangat kuat. Kesadaran lingkungan sekitar yang masih kurang malah membuatnya terasing.
Namun Ithong bersyukur, dukungan keluarga didapatnya secara penuh. Orangtua dan kakaknya terus merangkul. Mereka memahami, meski terlihat baik-baik saja, jiwa Ithong sejatinya bergolak. 
“Mereka support saya dengan kondisi apa pun, ini bagaimana mereka membangun support system dan relasi yang sehat,” tutur dia.
Walau berat, Ithong berharap kelak para penyintas seperti dirinya bisa mendapatkan tempat yang lebih ramah di tengah masyarakat, agar dapat terbangun dukungan yang dapat berkesinambungan.
“Sembuh lebih diartikan seperti stabil, bagaimana membangun support system, minum obat biar stabil. Gangguan jiwa menurut saya bukan penyakit yang dihilangkan tetapi bisa kembali. Jadi patokannya ya itu stabil,” harap Ithong.
Kemudian, dengan bergabung dengan komunitas yang kerap berbagi cerita dan saling merangkul, hal tersebut menjadi napas positif bagi para penyintas.
“Saya ada dan tergabung dalam Komunitas Sahitya, menurut saya bagus banget bisa terbuka dan menyadarkan stigma orang dengan gangguan jiwa itu punya harapan saat mendapat perawatan yang baik maka dapat beraktivitas seperti pada umumnya,” Ithong menandasi.

Pandangan Medis soal Kesehatan Mental

ilustrasi dokter 

Apa yang dirasakan Ithong kami coba tanyakan kepada seorang dokter ahli, Albert Maramis, SpKJ. Lewat wawancara kami, Albert membeberkan bahwa sebenarnya isu kesehatan mental yang awalnya diabaikan begitu saja dapat berdampak tidak baik.
Menurut dia, rasa depresi dan emosi adalah hal wajar hanya jika masih dapat dikendalikan. Bila pada saatnya sudah di luar kendali, seperti mengganggu sistem tubuh dan ritme kegiatan sehari-hari, maka hal itu lah yang seharusnya cepat disadari bahwa ada pergolakan batin yang tidak stabil dalam jiwa orang tersebut.
“Penyebab itu tidak sesederhana, 'oh kalau dia malaria penyebabnya parasit malaria yang ditularkan nyamuk, kalau gangguan jiwa hampir tak bisa disebutkan penyebab itu tunggal, misal cinta ditolak'. Padahal tak sesederhana itu, pasti ada faktor lain sehingga orang ini jadi sakit dan memang tak sesederhana itu,” ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com pada 12 Oktober 2019.
Karenanya, sebagai ahli, Albert menyarankan kepada siapa pun yang merasa dan memiliki kecenderungan terkait untuk dapat bersikap terbuka dan mau mendatangi layanan konsultasi kejiwaan. "Jadi pertama tentunya harus memahami apa itu gangguan jiwa dan gejalanya, kedua intropeksi, ketiga adalah menerima bantuan misal ke dokter minta pertolongan," jelas dia.
Kekinian, Albert mengamini semakin terbukanya informasi tentang isu kesehatan jiwa atau mental membuat kesadaran individu lebih tinggi. Namun dia tidak menyangkal kuatnya stigma negatif yang timbul bila seseorang secara terbuka mengakui bahwa dirinya adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
“Ada kasus pasien saya yang datang anaknya, tapi dicegah orangtuanya, dan berhenti berobat karena tidak boleh sama orangtuanya karena segala macam judgement,” sesal dia.
Padahal, Albert melanjutkan, bukan tidak mungkin bila seseorang terus memendam rasa tekanan dalam jiwanya akan menjadi semakin buruk dan berujung pada potensi negatif, seperti menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
“Karena meminta pertolognan profesional untuk penyakit fisik dan mental itu tidak ada bedanya. Kita harus mewaspadai orang ini dalam kondisi berisiko atau tidak, apakah di masa lalu dia pernah melakukan riwayat pecobaan bunuh diri? Kalau ada riwayat di masa lalu mungkin lebih berisiko,” jelas Albert.

Catatan Statistik Isu Kesehatan Mental

ilustrasi dokter

 

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merilis data pada tahun 2018, mencatatkan depresi sebagai gangguan jiwa yang paling sering terjadi. Lebih dari 300 juta penduduk dunia terdata mengalaminya.
Kemudian, bipolar adalah jenis gangguan jiwa kedua yang terdata hingga 60 juta penduduk dunia menderitanya. Dan, masih menurut data WHO, ada sekira 23 juta penduduk di seluruh dunia yang terdata sebagai pengidap jenis gangguan jiwa skizofrenia dan psikosis lain.
Lalu bagaimana di Indonesia?
Mengutip data Kementerian Kesehatan yang diberikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan, dr. Fidiansyah, Sp.KJ, dalam rentang 2013- 2018, pada Riset Kesehatan Dasar, skizofrenia atau psikosis terjadi peningkatan dari 0,15 persen menjadi 0,18 persen di seluruh Indonesia.
Kemudian, untuk gangguan mental emosional yang dimulai pada usia 15 tahun ke atas mengalami peningkatan dalam rentang lima tahun (2013-2018), yakni 6,1 persen menjadi 9,8 persen. Fidiansyah menjelaskan, penanganan kesehatan jiwa di Indonesia saat ini menurut data Kemenkes 2018, diketahui 84,9 persen orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) telah berobat, dengan 15,1 persennya tidak berobat. Kendati meski mereka berobat, hanya 48,9 persen yang mengonsumsi obat rutin sedangkan 51,1 persen tidak.
“Alasannya, bermacam ada yang merasa sudah sehat, tidak mampu beli obat, atau sering lupa,” kata dia saat dihubungi.
Fidiansyah juga membeberkan prevalensi pada penduduk berusia di atas 15 tahun yang kerap mengalami depresi. Hasilnya Sulawesi Tengah memiliki persentase tertinggi mencapai 12,3 persen, sedangkan Jambi menjadi yang terendah yakni 1,8 persen.
“Untuk DKI, prevalensi ada di angka 6,1 persen, angka ini sama dengan angka rata-rata tiap provinsi Namun diketahui hanya 9 persen penderita depresi yang mengonsumsi obat dan menjalani tindakan medis,” terang dia.
Sebagai informasi data prevalensi ini didapatkan Kemenkes dengan melakukan wawancara bersama Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI).