Selain jerawat, masalah kulit sejuta umat
lainnya yang tak kalah populer adalah bruntusan. Ya, setiap orang pasti
pernah mengalami bruntusan di sekitar wajahnya. Meski bukan kondisi
yang berbahaya, wajah bruntusan tentu mengganggu penampilan. Apalagi
jika kemunculannya hampir di seluruh wajah. Lantas, bagaimana cara
menghilangkan bruntusan di wajah?
Apa Itu Bruntusan ???
Bruntusan sebetulnya bukanlah sebuah istilah medis. Sebaliknya,
kondisi ini menggambarkan suatu keadaan kulit yang permukaannya terasa
kasar dan tidak rata. Jika diraba, bruntusan terasa seperti
bintik-bintik kecil yang menonjol di kulit.
Tak melulu di wajah, bruntusan bisa muncul di bagian tubuh
lainnya, selama bagian tubuh tersebut masih tertutupi kulit. Bruntusan
bisa muncul hanya di 1 atau 2 titik saja. Namun, tak jarang kondisi ini
juga bisa muncul bergerombol atau berkelompok di beberapa area tubuh
tertentu.
Beberapa daerah yang rentan mengalami bruntusan di wajah di
antaranya bagian T-zone, seperti dahi, hidung, dan dagu. Selain itu,
bruntusan juga bisa muncul di bagian punggung, leher, lengan, bahu, dan
bahkan dada.
Apa Penyebab Timbulnya Bruntusan di Wajah???
Bruntusan di wajah bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari komedo, iritasi wajah, dermatitis, milia,
folikulitis (peradangan pada folikel rambut), keratosis seboroik, dan
lain sebagainya. Akan tetapi, komedo merupakan salah satu cikal bakal
kemunculan bruntusan yang paling sering terjadi.
Sama seperti jerawat, komedo terbentuk dari penumpukkan sel-sel kulit mati dan minyak yang terperangkap di dalam pori-pori kulit. Pori-pori yang tersumbat ini bisa dipicu oleh beberapa hal, di antaranya.
Perubahan hormon
Stres
Produksi keringat berlebih
Penggunaan obat-obatan tertentu
Penggunaan kosmetik atau produk perawatan kulit yang tidak cocok
Kebersihan kulit yang tidak terjaga dengan baik. Misalnya menyentuh kulit dengan tangan kotor.
Bagaimana Cara Menghilangkan Bruntusan di Wajah?
1. Rutin Bersihkan Wajah
Supaya bruntusan di wajah cepat menghilang, Anda harus rutin
membersihkan wajah setidaknya 2 kali sehari, ketika bangun dan sebelum
tidur. Pilihlah sabun cuci muka yang sesuai dengan jenis kulit Anda.
Jika diperlukan Anda juga bisa menerapkan prinsip double cleansing, alias
cuci wajah dua kali untuk memastikan kulit wajah Anda benar-benar
bersih dari kotoran. Bagi Anda yang setiap hari menggunakan makeup, Anda
bisa membersihkan wajah menggunakan makeup remover yang berbasis air (micellar water) atau yang berbasis minyak untuk membersihkan makeup waterproof di wajah.
Pastikan Anda membersihkan wajah sampai benar-benar bersih dan
tidak ada sisa makeup lagi yang masih menempel. Pasalnya, sisa makeup
yang menempel ini bisa menjadi salah satu pemicu munculnya komedo.
2. Pakai Pelembab
Setelah urusan membersihkan wajah selesai, cara menghilangkan
bruntusan di wajah selanjutnya adalah rutin pakai pelembap. Setiap
orang, terlepas dari apa pun jenis kulitnya, wajib menggunakan pelembap.
Jika diperlukan, Anda juga bisa pakai toner dan serum sebelum menggunakan pelembap.
Apa pun produk perawatan kulit yang Anda pakai, pastikan Anda
memilih sesuai dengan jenis kulit wajah serta target masalah yang ingin
diatasi.
3. Jangan Sentuh Wajah Kamu
Menyentuh wajah, terutama kalau lagi bermasalah jadi salah satu
kebiasaan yang seringnya nggak disadari. Padahal ini bikin bruntusanmu
makin menjadi karena bakteri yang ada di tangan menyebar di kulit wajah.
Ingat lagi bahwa kamu harus menjaga kulit wajahmu tetap bersih,
termasuk juga menghindarkannya dari sentuhan tangan. Satu lagi,
sering-seringlah mengganti sarung bantal dan seprai, membersihkan layar
HP, dalaman helm, atau benda apa pun yang sering bersentuhan dengan
kulit wajahmu.
4. Eksfoliasi
Langkah perawatan untuk membantu menghilangkan bruntusan di wajah yang tak kalah penting adalah eksfoliasi, yaitu prosedur menghilangkan sel-sel kulit mati. Eksfoliasi
kulit dapat dilakukan secara berkala, tiap seminggu sekali, dengan
menggunakan produk eksfoliasi yang tepat sesuai jenis kulit Anda.
Selain ke tujuh langkah di atas, kamu juga perlu
memerhatikan pola makan dengan mengurangi makanan yang pedas atau
berlemak, jangan begadang, dan menghindarkan diri dari stres. Kalau
semuanya itu sudah kamu lakukan, yakin deh, bruntusanmu bakal perlahan menghilang dalam waktu seminggu. Semoga membantu, ya!
Mental Illness adalah kumpulan penyakit gangguan kejiwaan yang
mempengaruhi pikiran, perasaaan dan perilaku seseorang. Gangguan
kepribadian ini membuat penderita sulit untuk mengetahui perilaku yang
dianggap normal dan tidak.
Mental Illness juga banyak menimpa remaja loh! Sebagian besar
gangguan kesehatan mental muncul pada masa remaja atau mungkin di awal
usia 20-an.
Para peneliti dari Harvard Medical School menemukan, separuh dari kasus
gangguan mental dimulai dari usia sangat muda, 14 tahun dan
tigaperempatnya terjadi sejak usia 24 tahun. Karena kemunculannya yang
sangat dini itu, maka terapi dan penanganannya harus dilakukan sejak
awal pula.
Direktur Eksekutif National Alliance on Mental Illness (NAMI), Mary
Giliberti, menyatakan, ada 1 dari 5 remaja mengidap kondisi gangguan
mental seperti yang dijelaskan dari name.org, tapi hanya kurang dari setengahnya yang memutuskan mencari bantuan. Padahal Mental Illness adalah gangguan jiwa yang cukup berbahaya dan dapat menyebabkan bunuh diri.
Penyebab terjadinya Mental Illnes ini muncul oleh banyak
faktor, bisa karena stres, depresi karena mengalami tekanan yang dalam
terhadap mental, atau traumatik akan kehilangan sesuatu dan seseorang.
Tekanan batin karena lingkungan sekitar atau orang tua, kurang perhatian
atau kasih sayang dan masih banyak lagi.
Ini juga salah satu penyebab para remaja
stres atau depresi banyak yang memutuskan untuk mengkonsumsi obat-obatan
terlarang dan sering meminum alkohol atau minuman keras.
Jika kamu,
atau teman dan orang orang terdekat yang kamu tahu sering mengalami hal
di bawah ini, maka bisa jadi kamu atau orang terdekatmu memiliki Mental Illness,
1. Sering Merasa Sedih dan Tidak Punya Harapan
Sering merasa sedih dan tidak memiliki harapan, seperti mengucilkan diri
selama lebih dari dua minggu, hati hatilah kalau sebenarnya mentalmu
sedang terganggu.
2. Munculnya keinginan mengakhiri hidup
Jika kamu memiliki keinginan atau niatan untuk bunuh diri, bisa jadi kamu mengalami gangguan terhadap mental.
3. Tidak bisa mengendalikan diri sendiri
Suka marah dan teriak teriak histeris hanya karena hal kecil dan sering melakukan tindakan yang beresiko.
4. Sering takut akan sesuatu tanpa alasan
Sering muncul rasa takut tidak beralasan bahkan merasakan sesak nafas itu bisa terjadi karena mental mu yang sedang tidak stabil
5. Perubahan pola makan yang drastis
Berhenti makan dan suka memuntahkan makanan.
6. Mood Swing
Suasana hati yang bisa berubah kapan saja. Bisa sangat bahagia, sedih, mudah tersinggung dan marah marah gak jelas.
7. Sering memikirkan suatu hal dengan berlebihan
Hal kecil saja bisa membuat kamu memikirkan nya dengan terus menerus
8. Suka menyakiti diri sendiri
Menyakiti diri sendiri seperti menjedutkan kepala kepada tembok, juga salah satu gejala Mental Illness.
Disebutkan ada 10 tanda gangguan mental, namun gejala-gejala ini
tergantung dengan gangguan dan jenis yang di alami, gejala dapat
bervariasi:
1. Orang dengan gangguan kepribadian cluster A
cenderung mengalami kesulitan berhubungan dengan orang lain dan biasanya
menunjukkan pola perilaku yang dianggap aneh dan eksentrik.
2. Orang dengan gangguan kepribadian cluster B
kesulitan berhubungan dengan orang lain. Akibatnya, mereka menunjukkan
pola perilaku yang dianggap dramatis, tak menentu, mengancam atau
mengganggu.
3. Orang dengan gangguan kepribadian cluster C
takut terhadap hubungan pribadi dan menunjukkan pola kegelisahan dan
ketakutan di sekitar orang lain. Beberapa suka menyendiri dan tidak
ingin bersosialisasi.
Bagaimana Pengobatan Mental Illness???
Pengobatan gangguan mental tergantung pada jenis gangguan yang dialami
dan tingkat keparahannya. Selain terapi perilaku kognitif dan pemberian
obat, dokter juga akan menyarankan pasien menjalani gaya hidup yang
sehat.
1. Teori Perilaku Kognitif
Terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi
yang bertujuan mengubah pola pikir dan respons pasien, dari negatif
menjadi positif. Terapi ini menjadi pilihan utama untuk mengatasi
gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, gangguan kecemasan,
gangguan bipolar, dan gangguan tidur.
Pada banyak kasus, dokter akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, agar pengobatan menjadi lebih efektif.
2. Obat-Obatan
Untuk meredakan gejala yang dialami
penderita dan meningkatkan efektifitas psikoterapi, dokter dapat
meresepkan sejumlah obat berikut:
Menjalani gaya hidup sehat dapat
memperbaiki kualitas tidur penderita gangguan mental yang juga mengalami
gangguan tidur, terutama bila dikombinasikan dengan metode pengobatan
di atas. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:
Makan cemilan dengan sedikit karbohidrat sebelum tidur.
Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.
Jika mengalami gangguan mental yang cukup parah, penderita perlu menjalani perawatan di rumah sakit jiwa.
Demikian juga jika penderita tidak bisa menjalani perawatan mandiri
atau sampai melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang
lain.
Bagaimana Pencegahan Mental Illness ???
Tidak semua gangguan mental dapat
dicegah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk
mengurangi risiko serangan gangguan mental, yaitu:
Tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan dan aktivitas yang disenangi.
Berbagilah dengan teman dan keluarga saat menghadapi masalah.
Lakukan olahraga rutin, makan teratur, dan kelola stres dengan baik.
Tidur dan bangun tidur teratur pada waktu yang sama setiap harinya.
Jangan merokok dan menggunakan NAPZA.
Batasi konsumsi minuman beralkohol dan minuman berkafein.
Konsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, sesuai dosis dan aturan pakai.
Segera ke dokter bila muncul gejala gangguan mental.
Liputan6.com, Jakarta -"Mungkin
sudah sedari kecil gejala ini saya rasakan, bahkan saat SMP saya sempat
pasrah, karakter saya yang impulsif, membuat saya bisa nangis
tiba-tiba, itu tidak wajar, tapi saya anggap itu biasa saja"
Pengakuan tersebut membuka percakapan kami dengan pria berusia 32
tahun bernama Ithong. Ia perantau asal Yogyakarta yang menderita
gangguan kesehatan mental sejak terdiagnosa klinis pada 2018.
Ithong mengaku awalnya abai dengan segala hal yang bergejolak di
dalam jiwanya. Namun, semua keganjilan tersebut mulai terasa sejak tiga
tahun belakangan, setelah ia hijrah ke Bali pada awal 2017.
"Di tahun 2017 saya pindah ke Bali, setahun di Bali saya mulai
semuanya. Tapi di 2016 saya sempat di Jakarta dulu dan ikut giat-giat
meditasi untuk 'pelarian' karena waktu itu saya belum mendiagnosa diri
saya secara kinis, apakah saya benar-benar mengalami gangguan tersebut
atau tidak," tutur Ithong saat bertemu Tim Liputan6.com di Jakarta
Selatan, 16 Desember 2019.
Bali menjadi titik balik emosi Ithong yang tak terkendali. Secara
fisik, Ithong terlihat sehat. Namun di balik itu, dia mengaku sering
menangis tanpa sebab, dan meluapkan emosi di lingkungan kerjanya. Ithong
pun mengaku sempat berkonflik dengan atasannya, orang Australia, saat
bekerja di sebuah e-commerce.
"Hidup saya chaos dan depresif. Lalu saya keluar dari e-commerce itu. Padahal saya merasa memang tak sepenuhnya salah mereka," tutur pria berambut klimis itu.
Tidak memiliki banyak kawan di Bali membuat hidup Ithong
luntang-lantung. Di tengah kerasnya beban ekonomi, Ithong mengaku hampir
bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di
lingkup asuh anak. Setelah melewati seleksi ketat, dia diterima dan
dipercaya mengemban jabatan sebagai bapak asrama.
Namun belum sempat dia menjalankan tugasnya, Ithong mengaku menyerah.
Sebabnya, dia merasakan ada ketakutan dan kecemasan yang luar biasa
yang entah dari mana muncul dalam pikirannya.
"Tiba-tiba saya tidak percaya diri, saya merasa diberi amanat besar,
sementara saya merasa belum mampu. Ada ketakutan, kecemasan dan seperti
merasa bakal kehilangan kebebasan atas diri saya sendiri, saya tidak
akan merdeka atas diri saya sendiri," cemas Ithong saat itu.
Tekanan hidup dan pekerjaan belum habis mendera Ithong. Depresi
terbesar terjadi saat dirinya merasa semakin dijauhi oleh teman-teman
dekatnya. Ithong merasa curahan hatinya tidak lagi diterima, dia merasa
para sahabatnya sudah lelah dan malah menyalahkan Ithong atas kecemasan
berlebih yang menurut mereka hanya berputar di alam bawah sadarnya.
"Oh mungkin ini karena orbit kali ya, oh mungkin karena ini karena fulll moon
kali ya, oh mungkin karena ini itu, pokoknya saya selalu mengaitkan ini
dengan astrologi dan orang lain," kata dia. "Hal itu yang kiranya
kurang dapat diterima teman-teman. Saya sering bertolak pendapat, dan
saya disarankan ke ahli seperti psikolog dan psikiater."
Ithong yang merasa belum sanggup menerima saran untuk berobat
kejiwaan mengalami gejolak batin. Dia lebih memilih untuk datang kepada
praktisi emotional healing yang membuka jasa konsultasi dengan mendengarkan cerita sang pasien. Namun hasilnya dirasa nihil.
Kondisi Ithong makin runyam. Bahkan untuk terpejam beristirahat di
kala malam pun sulit. Ia lebih memilih terjaga, tak peduli berapa lama
pun, dilakoninya. Banyak hal yang menurutnya menjadi penyebab imajinya
berputar di kala malam, berseliweran dan membuatnya tak tenang.
Awal Terdiagnosa Bipolar
Ithong yang merana dan merasa sebatang kara di Bali memutuskan untuk
pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta. Kala itu saat momentum Hari
Raya. Dia juga memutuskan mau berobat ke ahli jiwa setelah sebelumnya
terus menyangkal bahwa dirinya baik-baik saja.
“Saya pulang dan hanya membawa satu tas, saya mulai pengobatan di
Yogya, saya tes MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) agar
tahu kena gangguan jiwa bagian mana, itu 2018,” tutur dia.
Hasil tes MMPI akhirnya menguak, secara klinis,ada yang tidak stabil
dalam jiwanya. Bipolar menjadi salah satu gangguan jiwa diidapnya selama
ini.
'Saya punya kecendrungan yang meledak, kalau tipikal mellow melankolis itu sudah dari dulu banget saat saya runut, sebenarnya polanya sama tapi terlihat wajar biasa saja,” tutur dia.
Setelah itu Ithong pun akhirnya mengonsumsi obat-obatan yang dapat
mengontrol emosinya. Rutinitas medis dan konsultasi dengan dokter ahli
diakui Ithong semakin membuat hidupnya tenang.
“Rasanya hidup saya lebih stabil ketika minum obat dan itu beda jauh saat minum dan tidak,” jelas dia.
Dirundung Stigma Negatif
Perjuangan
Ithong demi menstabilkan kejiwaan diakui tidak mudah. Selain merogoh
kocek, pergolakan sosial pun terjadi. Dia mengakui, bahwa stigma negatif
bagi para pengidap gangguan kejiwaan masih sangat kuat. Kesadaran
lingkungan sekitar yang masih kurang malah membuatnya terasing.
Namun Ithong bersyukur, dukungan keluarga didapatnya secara penuh.
Orangtua dan kakaknya terus merangkul. Mereka memahami, meski terlihat
baik-baik saja, jiwa Ithong sejatinya bergolak.
“Mereka support saya dengan kondisi apa pun, ini bagaimana mereka membangun support system dan relasi yang sehat,” tutur dia.
Walau berat, Ithong berharap kelak para penyintas seperti dirinya
bisa mendapatkan tempat yang lebih ramah di tengah masyarakat, agar
dapat terbangun dukungan yang dapat berkesinambungan.
“Sembuh lebih diartikan seperti stabil, bagaimana membangun support system,
minum obat biar stabil. Gangguan jiwa menurut saya bukan penyakit yang
dihilangkan tetapi bisa kembali. Jadi patokannya ya itu stabil,” harap
Ithong.
Kemudian, dengan bergabung dengan komunitas yang kerap berbagi cerita
dan saling merangkul, hal tersebut menjadi napas positif bagi para
penyintas.
“Saya ada dan tergabung dalam Komunitas Sahitya, menurut saya bagus
banget bisa terbuka dan menyadarkan stigma orang dengan gangguan jiwa
itu punya harapan saat mendapat perawatan yang baik maka dapat
beraktivitas seperti pada umumnya,” Ithong menandasi.
Pandangan Medis soal Kesehatan Mental
Apa
yang dirasakan Ithong kami coba tanyakan kepada seorang dokter ahli,
Albert Maramis, SpKJ. Lewat wawancara kami, Albert membeberkan bahwa
sebenarnya isu kesehatan mental yang awalnya diabaikan begitu saja dapat berdampak tidak baik.
Menurut dia, rasa depresi dan emosi adalah hal wajar hanya jika masih
dapat dikendalikan. Bila pada saatnya sudah di luar kendali, seperti
mengganggu sistem tubuh dan ritme kegiatan sehari-hari, maka hal itu lah
yang seharusnya cepat disadari bahwa ada pergolakan batin yang tidak
stabil dalam jiwa orang tersebut.
“Penyebab itu tidak sesederhana, 'oh kalau dia malaria penyebabnya
parasit malaria yang ditularkan nyamuk, kalau gangguan jiwa hampir tak
bisa disebutkan penyebab itu tunggal, misal cinta ditolak'. Padahal tak
sesederhana itu, pasti ada faktor lain sehingga orang ini jadi sakit dan
memang tak sesederhana itu,” ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com pada 12 Oktober 2019.
Karenanya, sebagai ahli, Albert menyarankan kepada siapa pun yang
merasa dan memiliki kecenderungan terkait untuk dapat bersikap terbuka
dan mau mendatangi layanan konsultasi kejiwaan. "Jadi pertama tentunya
harus memahami apa itu gangguan jiwa dan gejalanya, kedua intropeksi,
ketiga adalah menerima bantuan misal ke dokter minta pertolongan," jelas
dia.
Kekinian, Albert mengamini semakin terbukanya informasi tentang isu
kesehatan jiwa atau mental membuat kesadaran individu lebih tinggi.
Namun dia tidak menyangkal kuatnya stigma negatif yang timbul bila
seseorang secara terbuka mengakui bahwa dirinya adalah orang dengan
gangguan jiwa (ODGJ).
“Ada kasus pasien saya yang datang anaknya, tapi dicegah orangtuanya,
dan berhenti berobat karena tidak boleh sama orangtuanya karena segala
macam judgement,” sesal dia.
Padahal, Albert melanjutkan, bukan tidak mungkin bila seseorang terus
memendam rasa tekanan dalam jiwanya akan menjadi semakin buruk dan
berujung pada potensi negatif, seperti menyakiti diri sendiri atau
bahkan bunuh diri.
“Karena meminta pertolognan profesional untuk penyakit fisik dan
mental itu tidak ada bedanya. Kita harus mewaspadai orang ini dalam
kondisi berisiko atau tidak, apakah di masa lalu dia pernah melakukan
riwayat pecobaan bunuh diri? Kalau ada riwayat di masa lalu mungkin
lebih berisiko,” jelas Albert.
Catatan Statistik Isu Kesehatan Mental
Organisasi
Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merilis data pada
tahun 2018, mencatatkan depresi sebagai gangguan jiwa yang paling sering
terjadi. Lebih dari 300 juta penduduk dunia terdata mengalaminya.
Kemudian, bipolar adalah jenis gangguan jiwa kedua yang terdata
hingga 60 juta penduduk dunia menderitanya. Dan, masih menurut data WHO,
ada sekira 23 juta penduduk di seluruh dunia yang terdata sebagai
pengidap jenis gangguan jiwa skizofrenia dan psikosis lain.
Lalu bagaimana di Indonesia?
Mengutip data Kementerian Kesehatan yang diberikan oleh Direktur
Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian
Kesehatan, dr. Fidiansyah, Sp.KJ, dalam rentang 2013- 2018, pada Riset
Kesehatan Dasar, skizofrenia atau psikosis terjadi peningkatan dari 0,15
persen menjadi 0,18 persen di seluruh Indonesia.
Kemudian, untuk gangguan mental emosional yang dimulai pada usia 15
tahun ke atas mengalami peningkatan dalam rentang lima tahun
(2013-2018), yakni 6,1 persen menjadi 9,8 persen. Fidiansyah
menjelaskan, penanganan kesehatan jiwa di Indonesia saat ini menurut
data Kemenkes 2018, diketahui 84,9 persen orang dengan gangguan jiwa
(ODGJ) telah berobat, dengan 15,1 persennya tidak berobat. Kendati meski
mereka berobat, hanya 48,9 persen yang mengonsumsi obat rutin sedangkan
51,1 persen tidak.
“Alasannya, bermacam ada yang merasa sudah sehat, tidak mampu beli obat, atau sering lupa,” kata dia saat dihubungi.
Fidiansyah juga membeberkan prevalensi pada penduduk berusia di atas
15 tahun yang kerap mengalami depresi. Hasilnya Sulawesi Tengah memiliki
persentase tertinggi mencapai 12,3 persen, sedangkan Jambi menjadi yang
terendah yakni 1,8 persen.
“Untuk DKI, prevalensi ada di angka 6,1 persen, angka ini sama dengan
angka rata-rata tiap provinsi Namun diketahui hanya 9 persen penderita
depresi yang mengonsumsi obat dan menjalani tindakan medis,” terang dia.
Sebagai informasi data prevalensi ini didapatkan Kemenkes dengan
melakukan wawancara bersama Mini International Neuropsychiatric
Interview (MINI).